okt dog budibadabadu: ::: baduthinks

Saturday, October 16, 2004

::: baduthinks


mine is the sunlight, mine is the morning
born of the one light, eden saw play
praise with elation, praise every morning
God's recreation of the new day
(“Morning Has Broken”. Cat Stevens. 1971)

Saya mengintip buku harian Badu, ketika dia sedang pergi ke luar kota. Salah sendiri tidak dikunci. Waduh, tulisannya kecil-kecil amat sih:

jangan-jangan segala macam persimpangan jalan itu kita sendiri yang menciptanya. kita "merancang"-nya, lantas menetakkannya di tempurung kepala. maka muncul keraguan. maka terbit kebimbangan. you resah. you gundah. celakanya, sering kita malah menikmati setiap penggal kebingungan kita, asyik berkutat di dalamnya, sampai lupa bahwa tujuan sebenarnya adalah keluar dari kubangan itu. ciloko tenan jika benar begini. perhaps we've just watched too many movies. jadi seolah-olah hidup harus pula dramatik. life imitates #art# movies, atau #art# movies imitates life? walah. banyak yang malah merasa bangga punya segudang masalah. merasa keren jika keliatan sibuk, merasa hebat kalo dibilang sinis, merasa jagoan jika sudah tidak tidur berhari-hari. bleh. sejak kapan sinisme dan insomnia menjadi parameter kualitas seseorang? aku ketawa melihat budi nyengir [sumpeh, mukanya jadi juelekk banget], ketika seorang kawan dia melontarkan statement yang menyentak: "kok uwong-uwong podho seneng yo, yèn kétok sibuk mrono-mréné, nggarap macem-macem, agendané pirang-pirang?" heheh. lalu kawannya itu [belakangan aku tau namanya itonk] melanjutkan, “…yèn aku kok luwih seneng kétok nyantai, ra popo kétok léda-lédé, ning kabèh gawéanku beres, urip kepénak, dhuité akèh …” hahaha. aku bisa baca pikiran budi, yakni: asem tenan kowé tonk, bener juga sih. nah lo. aku pengen itu bisa dijadikan semacam sindiran yang tepat buat dia, meski bisa jadi kawannya yang garing lucu itu tidak memaksudkannya begitu. aku kadang kesal ama dia, yang lebih sering menampik saran-saranku untuk lebih taktis dalam menyiasati hidup. apa sih maunya? gagal satu kalipun sudah terlalu banyak! ayo bud, semangat! optimis dong! aku sepakat abis ama satu orang temen dia lainnya [seseorang yg tampaknya sangat dihormati dan dikaguminya] yang pernah menuliskan sesuatu untuknya: ...semoga kamu melihatnya tidak sebagai kolam (kubangan?) tempat kamu pernah tercebur, tapi sebagai karang terjal, yang ketika kamu melihat ke belakang untuk kedua kalinya, kamu bisa berbangga—dan tertunduk syukur—telah melewatinya… ouch. aku liat dia tercenung waktu mendapati tulisan itu pertama kali [meski disamarkan, dia sangat tau itu untuk dia]. lalu malam-malam dia datang lagi untuk diam-diam menyalinnya dengan penuh haru, dada bergemuruh, dan mata menghangat. pokoknya sepakat abis ama temannya yang satu itu. nah, kurang apa lagi, coba? semangat dong bud! taktis dong, taktis!

Di pikiran saya cuma: sialan si Badu. Saya kapok baca buku hariannya.

* * *