okt dog budibadabadu: ::: langitku kamarku

Monday, December 05, 2005

::: langitku kamarku


"... in fact, you're gonna have to work very hard to stay alive ..."
—Rory Breaker, in Lock, Stock and Two Smoking Barrels (Guy Ritchie, UK, 1998)


Yang paling menjengkelkan dari jatuh tumbang, stamina anjlok, dan harus berhari-hari berbaring di tempat tidur adalah: kamu hanya bisa menatap langit-langit kamar. Dan itu membosankan. Apa yang bisa kamu harapkan dari bola lampu 60 watt dan pendarnya yang sangat biasa itu? Benar-benar membosankan. Bahkan cicak pun sudah tak sudi mampir untuk sekadar berburu nyamuk—mungkin bagi mereka Zaman-Berburu-dan-Meramu sudah masuk ke dalam bab Zaman Prasejarah Peradaban Cicak, dan cicak-cicak modern zaman sekarang lebih suka ke supermarket beli nyamuk kalengan.

Sebagai variasi pemandangan memang ada topeng tradisional Korea yang saya beli dengan harga agak miring di Seoul sembilan tahun yang lalu, warnanya coklat kehitaman, dipaku agak miring di tembok tepat di depan mata saya, tapi lama kelamaan ekspresi nyengirnya yang begitu-begitu saja ternyata tak kalah membosankannya. Baiklah, masih ada harapan yang coba saya munculkan: poster besar film Arisan! yang sengaja saya pasang terbalik atas-bawah. Sebenarnya ini cara yang ampuh mengatasi kejenuhan atas interior ruangan. Ketika beberapa waktu lalu saya dilanda kebosanan yang luar biasa tanpa tahu kenapa, saya mulai membalik atas-bawah semua poster, foto, dan lukisan di dinding kamar saya. Ada sensasi yang tidak biasa ketika memandang terbalik Rachel Maryam yang dengan ekspresi dungunya mengintip Surya Saputra, Tora Sudiro, dan Cut Mini—rasanya makin dungu saja kesannya. Dan di dunia yang segalanya serba menuntut kepintaran, hal-hal bodoh semacam itu cukup menghibur.
Sayangnya, itu beberapa waktu yang lalu. Kini cara itu tidak mujarab lagi.

Memandang Rachel Maryam terbalik dengan kepala yang sedang nyut-nyutan seperti sekarang ini hanya membuat saya makin mengutuk Pak Puyeng, si tukang komidi putar yang tinggal di batok kepala saya, karena menjalankan mesinnya terlalu cepat. Sambil tersenyum khas, memperlihatkan gigi coklatnya yang ompong dimakan usia, Pak Puyeng berkata, suaranya tidak terlalu jelas dan bergema-gema: "Nak Budi kan udah lama ndak naik komidi putar, makanya Pak Puyeng sengaja nyetel kecepatan pol, dirapel gitu…" Saya mau protes, "Terakhir saya liat atraksi tong setan Pak, waktu itu karcisnya Rp 500,-!" tapi suara saya tercekat. Entah bertapa di gua keramat mana Pak Puyeng ini, bisa-bisanya dia membaca pikiran saya: "Ini gratis kok Nak Budi…" Busyet. Lebih baik saya bayar dan turun, daripada gratisan tapi saya muntah.

Maka yang bisa saya lakukan hanyalah kembali menatap langit-langit kamar. Warnanya putih bersih, catnya benar-benar mantap. Ada sedikit sarang laba-laba di setiap pojoknya, saya biarkan saja, karena siapa tahu Spiderman tiba-tiba hinggap di jendela dan kami bisa foto bersama. Kalau saya beruntung, mungkin Peter Parker mau jadi sahabat pena saya. Warna langit-langit kamar saya yang benar-benar polos bikin tangan saya gatal untuk mencorat-coretnya. Tak perlu pake pilox, saya rasa, sebab graffiti "CUEX IS THE BEST" bener-bener so last year. So last century, malah. Hmm, tampaknya "BADU WAS HERE" lebih lumayan, sebab frase ini menunjukkan gelagat abadi dan tak kenal kata usang. Tapi gimana cara menuliskannya? Langit-langit itu kira-kira 5 meter tingginya, kalau saya tak salah ukur. Jangan suruh saya memakai tangga, sebab "tangga" adalah salah satu kata yang paling saya benci. Saya menyobek halaman 1137 dari Kamus Besar Bahasa Indonesia yang memuat kata itu dan membuangnya ke tong sampah. Saya tidak suka permainan "ular-tangga" yang tolol itu (apalagi jika lawan mainmu adalah Tuhan, oh man, apa menariknya?), pepatah "sudah jatuh, tertimpa tangga" adalah peribahasa paling menyebalkan sedunia, saya menutup kuping jika grup vokal "Tangga" mendendangkan lagu-lagunya (ide bodoh siapa sih, mencomot kata sialan itu sebagai nama sebuah grup?), dan saya amat sangat benci yang namanya "rumah tangga".

Oh, mungkin saya akan memakai trampolin saja. Saya serius. Maksudnya begini. Saya akan melompat dari trampolin, melenting ke atas seperti Michael "Air" Jordan. Woohoo!!! Bedanya: dia bawa bola basket dan saya bawa spidol. Cool. Saya siap menjemput langit-langit, dan membubuhkan kredo eksistensialis tadi. Haha. Oh, wait a minute. Sialan. Ada yang lupa saya perhitungkan. Si plontos Jordan hanya butuh 1 kesempatan terbang untuk menceploskan bola ke keranjang, sedangkan saya? Menuliskan "B-A-D-U--W-A-S--H-E-R-E" jelas butuh waktu lebih dari itu. Tidak bisa sekali berangkat lalu beres semuanya. Saya harus lompat berkali-kali, menggoreskan huruf demi huruf, dan itu jelas tidak menarik. Ide ini terpaksa saya batalkan. Lagipula, saya baru ingat, dan ini yang bikin saya merasa bodoh, saya kan sedang sakit. Mana mungkin saya lompat-lompat pake trampolin. Belum kalau kepala saya terbentur langit-langit. Bisa-bisa Pak Puyeng ngetawain saya lagi. Mungkin saya akan minta bantuan Spiderman saja. Sepertinya asyik juga minta gendong dia sambil berayun-ayun dengan jaring laba-laba. Ada yang tau nomor telepon Peter Parker? Aduh, bodohnya saya. Saya lupa, ada sebuah buku mahakarya jenius dari manusia modern dengan jumlah tokoh/karakter paling banyak sepanjang sejarah—saya yakin kitab Mahabharata atau bahkan La Galigo sekalipun kalah banyak—yaitu Buku Telepon.

Bagaimana jika mendengarkan musik saja? Ugh, ide brilian. Musik yang tepat akan menyembuhkan saya. Tapi karena jarak tempat tidur ke CD player tiba-tiba terasa sama jauhnya dengan jarak Anyer-Panarukan, maka saya memutuskan untuk memutar musik imajiner di kepala saya. Yang langsung terbayang adalah track ke-4 dari album solo Graham Coxon setelah resmi keluar dari Blur, Happiness in Magazines. Lagunya berjudul "Bittersweet Bundle of Misery", kira-kira berdurasi hampir lima menit, dan ada liriknya yang berbunyi demikian: "…as I study the lines on ceiling, I find the fact you’re unkind quite appealing…" Hohoho. Saya memilih lagu yang tepat! Kepala saya mengangguk-angguk, seperti kakek-kakek yang sudah tua, giginya tinggal dua. Tapi segala keasyikan itu buyar seketika begitu lamat-lamat saya mendengar di rumah sebelah ada segerombolan anak muda sialan yang sedang bermain gitar dan bernyanyi rame-rame. Makin lama makin keras. Oh my Ghost. Mereka sedang berlatih lagu-lagu Peterpan! Kepala saya langsung nyut-nyutan lagi. Dengan vokal sok di-sengau-sengau-in ala Ariel padahal cempreng luar biasa, si empunya suara yang tampaknya didaulat jadi vokalis band rukun tetangga itu meneriakkan lirik super-duper-goblok-berisi-pertanyaan-paling-nggak-penting-sedunia-bahkan-juga-akhirat: "Tak bisakah kau menungguku?/Hingga nanti tetap menunggu…" Busyet. Haree genee, masih suruh nunggu? Nggak kenal kata "jemput bola" dan "inisiatif" ya Mas? Dunia ini keras dan penuh persaingan, Bung! Siapa cepat, dia dapat! ... Oke, udah cukup maki-makinya. Kalo udah gini saya jadi ingat pesan Badu tempo hari: "Bud, kalo lu mau Peterpan lenyap dari muka bumi ini, lu harus bikin band baru buat ngalahin mereka. Tidak bisa tidak. Dan cuma ada 1 nama yang cocok: Kapten Hook Band."

Baiklah. Supaya tidak terlalu kesal, mungkin menonton film ada baiknya. Tapi rasanya baru kemarin saya menonton film-film itu. Minggu lalu adalah minggu kesekian pekan film di kamar saya. Sepertinya sudah ribuan kali saya memutar film-film klasik item putih itu, tapi kenapa saya tidak pernah bosan mengulang-ulangnya? Mungkin karena saya memang hidup di masa lalu. ("Butuh kaca spion, Mas?") Ouch. Badu sih seneng-seneng aja, tapi Bada punya pendapat lain: "Bud, kalau kamu mau cepet sembuh, lebih baik kamu nonton film-film yang cerah ceria…" Dia tersenyum (yang dia pikir) manis, sambil menyodorkan setumpuk DVD kartun-kartun Disney. Oh plis deh. Kenapa nggak sekalian aja baca majalah Bobo, ngisi TTS berhadiah sepeda BMX, sambil minum limun?

Hey, wait a minute. Membaca! Yeah, ini ide yang bagus. Brilliant! Hilarious! Fantastic! Two thumbs up! Kenapa ide bagus suka datang terlambat ya? Ah, tidak apa-apa, sebab "alon-alon waton kelakon" tetap saja lebih baik daripada "alon-alon waton sulaya". Oke, tinggal pilih judul apa. Toh ini kamar saya, dan mencomot buku di ruangan ini sama gampangnya dengan mencari jarum jerami di tumpukan jerami. Saya jadi malu dengan niat saya "menata kamar" yang berantakan, dengan niat saya "mendata buku-buku" yang ribuan jumlahnya, dengan niat saya "menanam kaktus mungil" di bawah jendela. Rasa-rasanya niat itu sudah saya cetuskan berabad-abad silam, jauh sebelum Columbus menemukan Benua Amerika, dan sedihnya, sampai WTC runtuh dan Bush menyerbu Irak pun tekad itu masih saja menggantung, belum kesampaian. Jika Anda kenal dengan sejarawan yang cukup berpengaruh, tolong diusulkan revisi Tujuh Keajaiban Dunia. Tambahkan satu: Tekad Bergantung Badulonia.

Tapi ide membaca tadi malah membuat saya sedih. Sebab saya jadi ingat janji saya untuk meminjamkan buku Polysyllabic Spree-nya Sdr. Nick Hornby dan Nine Stories-nya Yth. Tuan JD Salinger milik saya ke Mas Warhol. Trus juga buku Dance on My Grave-nya Aidan Chambers ke Mbak Valentijn. Mereka berdua, Mas Warhol dan Mbak Valentijn, adalah teman baik saya. Dan itu belum kesampaian karena judul-judul itu nggak ketemu, "tersesat" di tumpukan buku di kamar pecah ini. Ini bikin saya sedih. Dan oh, ada yang lebih sedih: saya jadi ingat buku Dostoevsky paling favorit saya, Notes from the Underground, yang justru sedang dipinjam orang. Dengan alasan mulia: "untuk bahan skripsi". Oh, oh, saya (sempat) terharu. [Berapa orang yang sudah saya tolong mengentaskan skripsi-nya, —BANYAK!!!—, sementara saya...? Halah. Ntar juga pasti nyampe giliran-mu, Bud! *menghibur diri*] Tapi, damn oh damn, sampai sekarang buku itu malah belum dia kembalikan! Saya sudah coba menghubunginya berkali-kali via telepon dan SMS, hasilnya mengecewakan. Orang itu seperti lenyap ditelan bumi. Mungkin saya harus menyewa Detektif Swasta seperti di film-film noir tahun '50-an untuk mencari Si-Peminjam-Buku-Yang-Brengsek-Dan-Tidak-Bertanggung-Jawab itu. Masak dia nggak pernah keliatan lagi? Atau jangan-jangan dia memang dari dunia lain (hiii...), dan sekarang sedang bercinta dengan gaya sado-masochist bersama Harry Pantja. *dan di neraka ntar dia akan disetrika dan anusnya dimasuki linggis panas*
Ugh. Saya merasa jahat dengan berpikir horror seperti itu. Tapi gimana ya? Bukan apa-apa Bung, masalahnya buku itu sangat berpengaruh bagi saya. Buku itu adalah buku pertama yang saya beli di sebuah toko buku edan yang kemudian menjadi langganan saya, dan pemilik toko buku itu lalu menjadi teman baik saya. Saya bahkan masih ingat betul tanggal itu: Sabtu Pahing, 11 Januari 2003. Kok saya bisa ingat? Ya, sebab di hari yang sama, Sumanto van Purbalingga memakan (dalam arti harfiah) salah satu korbannya—dan populer lah dia. Dibicarakan di mana-mana, ditakuti di penjaranya, bahkan sampai dibikin filmnya. Mungkin benar kata pepatah, you are what you eat.

Sebenarnya saya pengen mengetik lebih banyak dan lebih banyak lagi, sebab saya tidak akan bosan-bosannya membuat Anda bosan. Tapi apa daya, jam minum obat sudah tiba. Saatnya tidur. Kembali saya harus menatap langit-langit kamar. Polos, minimalis, dan membosankan. Yeah you can say 'less is more', but now 'less is bore'. Sebelum terlelap, saya sempatkan berdoa: semoga langit-langit kamar itu tidak runtuh menimpa saya. Amin.

* * *
Post-scriptum:
A: Denger-denger, Sumanto sekarang sudah jadi vegetarian.
B: Oya?
A: Yo'i coy... Doi sekarang cuma makan sayur-sayuran dan daun-daunan...
B: Oya? Daun apa?
A: Daun telinga...